AMBON_ (03 Februari 2026). Putri Hastari, Ketua Bidang Kemaritiman dan Agraria yang baru saja demisioner yang juga merupakan salah satu kandidat ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Cabng Ambon menolak dua draf kepemimpinan HmI Cabang ambon.
Selasa/02 februari 2026, kata Putri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon memiliki peran strategis dalam merawat demokrasi, tidak hanya di ruang publik, tetapi juga di dalam tubuh organisasinya sendiri. Peran tersebut dijalankan melalui pendidikan politik kader serta pembentukan kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Islam yang damai, inklusif, dan moderat ungkap Putri.
Putri menjelaskan bahwa Sebagai organisasi kader dan agen perubahan, HMI Cabang Ambon dituntut untuk terus menjaga marwah organisasi di tengah berbagai dinamika yang terjadi. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam proses demokrasi, namun perbedaan tidak seharusnya bermuara pada perpecahan. Demokrasi kader semestinya melahirkan kedewasaan dalam bersikap, bukan polarisasi yang melemahkan organisasi.
Konferensi Cabang (Konfercab) HMI Cabang Ambon yang telah berlangsung kurang lebih satu bulan justru menunjukkan situasi yang memprihatinkan. Waktu yang panjang tanpa kepastian arah tidak hanya tidak strategis, tetapi juga berpotensi melemahkan konsolidasi internal serta mengikis kepercayaan kader terhadap proses organisasi.
Belakangan ini muncul isu mengenai adanya dua draf kepemimpinan. Kondisi tersebut patut disikapi secara serius karena berpotensi mencederai mekanisme dan etika demokrasi organisasi. Jika dibiarkan, hal ini bukan hanya membuka ruang terjadinya dualisme kepemimpinan, tetapi juga menjauhkan HMI dari nilai-nilai ideal perjuangannya.
Berdasarkan kesepakatan pada saat pembukaan konferensi HmI cabang Ambon Putri mengungkapkan bahwa Padahal sebelumnya, seluruh kandidat Ketua Umum — yang berjumlah sepuluh orang dan merupakan representasi kader terbaik HMI Cabang Ambon — telah menandatangani pakta integritas yang secara tegas menolak adanya sidang tandingan dalam Konfercab. Kesepakatan tersebut bukan sekadar formalitas administratif, melainkan komitmen moral bersama untuk menjaga kehormatan proses demokrasi di tubuh HMI.
Oleh karena itu, konsistensi terhadap kesepakatan menjadi ujian integritas kita bersama. HMI tidak boleh dikendalikan oleh manuver segelintir pihak yang mengabaikan etika organisasi. HMI Cabang Ambon adalah milik seluruh kader, bukan milik kelompok atau kepentingan tertentu.
Pengembangan kepemimpinan kader yang bernafaskan Islam yang damai dan moderat membutuhkan sosok pemimpin yang tegas, bertanggung jawab, serta berani menjaga aturan main organisasi. Ketegasan bukanlah lawan dari kedamaian. Justru melalui ketegasanlah rasa keadilan, kepastian, dan ketertiban organisasi dapat dirasakan oleh seluruh kader.
Putri menghimbau kepada seluruh kader HmI cabang ambon bahwa Ke depan, HMI Cabang Ambon harus tetap fokus pada misi besarnya: meningkatkan kualitas kader agar mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan umat. Kepemimpinan yang dibutuhkan bukanlah kepemimpinan yang lahir dari kepentingan sesaat, melainkan kepemimpinan yang berorientasi pada pembangunan kader dan penguatan organisasi.
Menolak dualisme kepemimpinan berarti menjaga persatuan kader. Dan menjaga persatuan kader berarti menjaga masa depan HMI itu sendiri tegas Putri.








