Oleh: Dokter Koboi
Hari ini, sebuah perjalanan panjang akhirnya mencapai garis finis.
Bukan karena hidup selalu mudah, bukan pula karena jalan yang ditempuh selalu terang. Perjalanan ini sampai pada tujuannya karena tekad yang terus dipelihara, doa yang tak pernah putus dipanjatkan, serta kesabaran yang tetap berdiri meski berkali-kali diuji oleh rasa lelah dan keinginan untuk menyerah.
Hari ini, Prof. dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed., Ph.D., resmi menyandang gelar Profesor. Sebuah sebutan yang tampak singkat, namun sesungguhnya menyimpan ribuan langkah di belakangnya. Sebab, menjadi Profesor bukan semata soal gelar akademik. Ia adalah tentang waktu yang dikorbankan, malam-malam panjang yang tidak selalu terlihat, kerja sunyi yang jarang disorot, serta pilihan untuk tetap bertahan ketika sebagian orang memilih berhenti.
Perjalanan ini mengajarkan satu pesan kehidupan yang sederhana namun mendalam: takdir tidak pernah benar-benar datang sendiri, ia dijemput.
Dijemput dengan kerja keras.
Dijemput dengan ketekunan.
Dijemput dengan konsistensi, bahkan saat hasil belum juga tampak.
Sering kali hidup membuat kita ragu. Merasa terlambat. Merasa tertinggal. Merasa tidak cukup baik. Namun hari ini seolah berkata dengan lembut, “Tenang, tidak ada perjuangan yang benar-benar sia-sia.”
Yang berjalan lambat bukan berarti kalah.
Yang jatuh bukan berarti gagal.
Yang tertunda bukan berarti ditolak.
Bisa jadi, Tuhan sedang menyiapkan versi terbaik dari kemenangan itu.
Momentum ini bukan hanya tentang capaian akademik, melainkan tentang kemenangan atas diri sendiri. Kemenangan atas rasa malas, atas ketakutan, atas lelah yang sering kali dipendam tanpa suara. Inilah bentuk keberhasilan yang paling manusiawi—ketika seseorang tetap melangkah meski tahu dirinya sedang tidak kuat.
Perjalanan ini juga mengingatkan kita pada makna persahabatan. Dalam hidup, persahabatan pun memiliki ujiannya. Janganlah kita menjadi bayang-bayang yang hanya hadir saat terang, lalu menghilang ketika gelap datang. Persahabatan sejati bukan tentang duduk bersama ketika semua terasa mudah, melainkan tentang tetap tinggal saat dunia terasa berat. Bukan hanya ikut tersenyum saat bahagia, tetapi ikut menopang ketika air mata jatuh tanpa suara.
Teman yang baik bukan sekadar yang mengucapkan “selamat” saat puncak diraih, melainkan yang berkata, “ayo, kamu bisa,” saat perjalanan masih dimulai dari dasar.
Jika seseorang mampu sampai di titik ini, itu bukan karena ia tidak pernah lemah, melainkan karena ia memilih tetap berjalan walau lemah.
Selamat kepada Prof. dr. Marhaen Hardjo, M.Biomed., Ph.D.
Semoga gelar ini bukan sekadar menjadi kebanggaan pribadi, tetapi menjelma sebagai jalan pengabdian yang semakin luas—melahirkan ilmu yang bermanfaat, mencetak generasi yang tangguh, serta menjadi pelita bagi dunia akademik dan kemanusiaan.
Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa tinggi kita naik, melainkan seberapa banyak kebaikan yang ikut naik bersama kita.
Jika ada yang sirik, mencemooh, atau memilih mencueki—biarlah. Hari ini, takdir itu telah dijemput dengan penuh hormat. Dan hari ini pula, sebuah sejarah kecil yang sarat makna resmi ditulis: Profesor adalah hasil dari perjuangan panjang yang tidak pernah mengkhianati ketekunan.








