farsa.id – Pengamat dan Direktur Eksekutif 2Indos Arfino Bijuangsa memberi saran agar Partai-Partai Politik Baru berfokus mempersiapkan strategi ampuh agar lolos Parliamentary Threshold. Pasal 414 PERPPU Nomor 1 Tahun 2022 Perubahan Atas Undang Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, berbunyi: “Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara paling sedikit 4% (empat persen) dari jumlah suara sah secara nasional untuk ikut dalam penentuan perolehan kursi anggota DPR”.
Pesan 2Indos untuk Partai-Partai Politik Baru
Kata Fino, 2Indos sebagai Lembaga Konsultan Politik dan Survei yang berfokus meneliti dan mengkaji Partisipasi Politik Millenial (Gen Y) dan Gen Z memberi saran: 3 Partai Politik Baru, diantaranya: PKN, Partai Gelora dan Partai Ummat memiliki tantangan besar pada pileg 2024 yang akan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia. Kompetisi antar Partai Politik nantinya akan menjadi ujian berat dan tantangan besar bagi Partai-Partai Politik Baru yang mengejar 4% pencapaian suara sah Nasional.
Ada Partai-Partai Politik yang perjalanan sejarahnya sudah dimulai sejak Orde Baru, yaitu: Partai Golkar (Gorkar), PDI Perjuangan (PDI) dan PPP. Dan Partai-partai Politik Besar yang lahir di Era Reformasi. Pastinya, Para Peracik Bumbu Dapur Partai-partai Politik Baru ini harus mampu mengkonsolidasikan kekuatan dan mendukung proses kaderisasi dengan memunculkan kader-kader muda yang berasal dari Gen Y (lahir antara 1981 s/d 1995) dan Gen Z (lahir antara 1996 s/d 2009) untuk mewakili Partai Politik di Kancah Nasional, yang membawa gagasan-gagasan segar untuk Indonesia. Partai-Partai Politik Baru ini yang sebagian disutradarai pemain lama ini harus berani memunculkan Politisi-Politisi Muda yang cerdas dan tidak menampilkan kepribadian angkuh kepada masyarakat. Saya fikir, masyarakat di Indonesia sudah mulai bosan juga melihat wajah-wajah lama, yang orangnya itu-itu saja pada partai-partai Politik yang masih mampu bertahan sampai dengan saat ini.
Fenomena PSI 2019
Fenomena Partai Solidaritas Indonesia atau PSI, kader-kadernya seringkali menjadi Narasumber di TV Nasional, mengklaim mewakili suara anak muda sebagai Partai Politik Anak Muda antara tahun 2018-2019 yang pada saat itu masih dikomandoi oleh Grace Natalie. ‘Berakhir Tragis’ dengan perolehan suara sebanyak 1,8 % (2,65 juta suara) di Pemilihan Legislatif 2019. Seandainyapun Parliamentary Threshold tahun 2009 yang diterapkan pada Pemilu 2019, maka PSI juga tidak akan lolos ke Senayan.
Fino mengingatkan Partai-Partai Politik Baru bahwa Gen Y dan Gen Z lebih memiliki kemampuan dan pengalaman untuk mengorganisir massa secara massif untuk memenangkan Partai pada Pileg 2024 dari balik layar, dengan mengoptimalkan kekuatan dasyat teknologi. Diantaranya memanfaatkan algoritma search engine, pengaruh media sosial dan aggregator untuk meminimalisir biaya politik di lapangan dan memberikan efek besar bagi partai, sehingga jualan partai-partai politik laku di pasaran dan diterima oleh rakyat Indonesia, outcome-nya adalah rakyat akan berbondong-bondong memilih Partai tersebut. Dan target perolehan suara sah nasional sebanyak 4% tercapai, khususnya Partai-Partai Baru.
Partai-Partai Politik Baru harus confident bersaing dengan partai-partai politik besar maupun Partai-Partai Politik lain yang mampu memenuhi syarat formil Parliamentary Threshold yang diatur UU. Langkah-langkah Strategis dari Partai-Partai Politik harus mampu dieksekusi di lapangan. Keberhasilan Strategi Marketing Politik adalah Lakunya jualan-jualan partai sehingga masyarakatpun tergiur untuk menyerahkan harapan kehidupannya 5 tahun kedepan kepada Partai-Partai Politik. Jangan sampai dengan bertambahnya jumlah Partai Politik beriringan pula dengan bertambahnya jumlah masyarakat yang Golput.
Kata Fino, seringkali menjadi pembicara di TV Nasional dan Popular hanyalah salah satu variabel untuk memenangkan Pileg 2024. Variabel-variabel lainnya mesti diaduk rata dengan bumbu yang pas sehingga rasanya mampu menghipnotis partisipasi pemilik Hak Suara untuk mendatangi TPS-TPS nantinya. Partai-Partai Baru harus berkeyakinan kuat dan mengantisipasi sejak awal agar tidak mengulangi kembali Tragedi PSI pada 2019, tutupnya.








