Taruna Ikrar: BPOM dan Baharwathan Kemhan Perkuat Sinergi Kemandirian Farmasi, Dukung Ketahanan Nasional

Berita224 Dilihat

JAKARTA, FARSA.ID — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Taruna Ikrar, menegaskan komitmen BPOM dalam memperkuat sinergi strategis dengan Badan Pemeliharaan dan Perawatan Pertahanan (Baharwathan) Kementerian Pertahanan RI guna mewujudkan kemandirian farmasi nasional sekaligus mendukung ketahanan nasional.

Komitmen tersebut disampaikan Taruna Ikrar saat menerima kunjungan jajaran Baharwathan Kemhan di kantor BPOM. Pertemuan ini menjadi momentum penguatan koordinasi lintas sektor, khususnya dalam pengoordinasian kegiatan farmasi pertahanan sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 85 Tahun 2025.

“Sinergi BPOM dan Baharwathan Kemhan merupakan langkah strategis negara untuk memastikan obat yang diproduksi dalam rangka pertahanan memenuhi standar mutu, keamanan, dan khasiat, sekaligus mendukung kemandirian nasional di bidang farmasi,” ujar Taruna Ikrar.

Ia menegaskan, BPOM mendukung penuh program prioritas pemerintah, termasuk penguatan industri farmasi nasional serta penyelenggaraan program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Kolaborasi dengan Kementerian Pertahanan dinilai krusial mengingat peran lembaga farmasi TNI dalam penyediaan obat bagi kepentingan pertahanan negara maupun masyarakat.

Taruna Ikrar menjelaskan, BPOM dan Kemhan telah memiliki landasan kerja sama melalui Nota Kesepahaman (MoU) Penguatan Ketahanan Nasional di Bidang Obat dan Makanan. Ruang lingkup kerja sama tersebut mencakup percepatan sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB), percepatan evaluasi izin edar, pengawasan distribusi obat sesuai Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB), peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga pengembangan obat bahan alam.

“BPOM siap memberikan asistensi regulasi secara intensif, baik melalui konsultasi teknis, inspeksi di lokasi, maupun percepatan evaluasi setelah seluruh persyaratan terpenuhi. Ini bagian dari ikhtiar bersama membangun farmasi pertahanan yang kuat, patuh regulasi, dan berdaya saing,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku dan obat jadi yang masih menjadi tantangan besar karena berdampak pada harga serta ketersediaan obat. Menurutnya, penguatan produksi dalam negeri, termasuk oleh lembaga farmasi TNI, merupakan kebutuhan strategis yang harus dikawal bersama.

“Kemandirian farmasi pertahanan tidak hanya penting bagi kesiapsiagaan nasional, tetapi juga berdampak positif terhadap stabilitas harga obat dan keberlanjutan sistem kesehatan nasional,” tegas Taruna Ikrar.

Melalui sinergi BPOM dan Baharwathan Kemhan, pemerintah berharap dapat membangun ekosistem farmasi pertahanan yang mandiri, tangguh, serta selaras dengan standar nasional dan global sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan dan ketahanan nasional Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *