Atraktor Cumi Perkuat Daerah Perlindungan Laut di Makassar Lewat Kolaborasi Multipihak

Lingkungan142 Dilihat

MAKASSAR, FARSA.id – Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan organisasi lingkungan terus diperkuat untuk mendukung pengelolaan pesisir dan laut yang berkelanjutan di Kota Makassar. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemasangan atraktor cumi di wilayah Daerah Perlindungan Laut (DPL) Pulau Barrang Caddi dan Pulau Bonetambu.

Program tersebut didiseminasikan oleh Yayasan Kitaji Pinisi Indonesia (YKPI) bersama Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) pada Rabu (10/6/2026), bertepatan dengan momentum peringatan Hari Laut Sedunia 2026.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah kelurahan dan kecamatan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Balai Penataan Ruang Laut, Balai Pengelolaan Kelautan Satker Sulsel, aparat keamanan, kelompok masyarakat pengawas perikanan, hingga organisasi masyarakat sipil yang bergerak di bidang konservasi laut.

Perwakilan YKPI, Muhammad Imran Lapong, menjelaskan bahwa pemasangan atraktor cumi dilakukan dengan melibatkan masyarakat pesisir sebagai penerima manfaat utama. Penentuan lokasi pemasangan juga mengacu pada pengetahuan lokal nelayan setempat.

“Kami telah memasang atraktor cumi di Pulau Barrang Caddi dan Pulau Bonetambu dengan melibatkan masyarakat sebagai penerima manfaat langsung. Pengetahuan lokal menjadi dasar penting dalam menentukan lokasi pemasangan sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara optimal,” ujarnya.

Perwakilan YKPI, Muhammad Imran Lapong

Atraktor cumi merupakan media buatan yang ditempatkan di laut untuk menarik cumi-cumi bertelur dan berkembang biak. Metode ini dinilai mampu membantu meningkatkan stok sumber daya perikanan sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Manajer Program Ekosistem Kelautan Yayasan KEHATI, Toufik Alansar, mengatakan pihaknya telah mendukung berbagai program konservasi laut di Makassar selama tiga tahun terakhir melalui kemitraan dengan YKPI.

“Yayasan KEHATI terus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan konservasi laut di Kota Makassar. Kami berharap seluruh pihak dapat memanfaatkan hasil-hasil program yang telah dilaksanakan demi keberlanjutan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut,” katanya.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Kecamatan Kepulauan Sangkarrang. Sekretaris Kecamatan Kepulauan Sangkarrang, Sitti Subaeda, mengapresiasi program tersebut karena dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pulau.

“Kami sangat bersyukur atas kegiatan yang telah dilaksanakan. Pemerintah berkomitmen mendukung program-program serupa di wilayah pulau karena memiliki dampak positif terhadap masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

Kolaborasi Multipihak Perkuat Daerah Perlindungan Laut Melalui Atraktor Cumi di Makassar

Potensi Ekonomi untuk Nelayan

Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Laut Indonesia (YKL) Indonesia, Nirwan Dessibali, menilai atraktor cumi tidak hanya mendukung konservasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat pesisir.

Menurutnya, peningkatan hasil tangkapan cumi dapat membuka akses pasar yang lebih luas dan meningkatkan pendapatan nelayan.

“Hasil dari atraktor cumi nantinya dapat didistribusikan langsung ke rumah makan atau restoran. Dengan begitu, manfaat ekonomi bagi masyarakat pulau akan semakin terasa dan kesejahteraan nelayan dapat meningkat,” jelasnya.

Sementara itu, perwakilan Kodaeral VI, Dwi Yoga, menyoroti pentingnya integrasi kawasan konservasi ke dalam sistem pelayaran nasional. Ia mendorong agar kawasan konservasi yang telah ditetapkan memiliki penanda yang jelas dan datanya disampaikan ke tingkat pusat.

“Area konservasi perlu memiliki penanda yang jelas. Profil kawasan juga sebaiknya disampaikan ke tingkat pusat agar dapat dimasukkan dalam peta alur pelayaran,” katanya.

Kolaborasi lintas sektor ini dinilai menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut. Selain memperkuat konservasi, pendekatan tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pulau-pulau kecil melalui pemanfaatan sumber daya laut yang bertanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *