Taruna Ikrar Resmikan Cafe Jamu Indonesia di PIK 2, Dorong Jamu Naik Kelas ke Pasar Global

Berita352 Dilihat

JAKARTA, FARSA.ID – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., meresmikan Cafe Jamu Indonesia di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Jakarta, Rabu (4/2/2026). Peresmian ini menandai babak baru transformasi jamu Indonesia dari warisan leluhur menuju gaya hidup kesehatan modern berstandar global.

Di kawasan urban yang identik dengan gaya hidup kosmopolitan, jamu ditampilkan dalam wajah baru—bukan sekadar minuman tradisional, melainkan pengalaman budaya yang dikemas secara edukatif, estetis, dan relevan dengan generasi masa kini.

Jamu sebagai Warisan dan Masa Depan

Dalam sambutannya, Taruna Ikrar menegaskan bahwa jamu bukan sekadar nostalgia, melainkan warisan pengetahuan, kekayaan biodiversitas, dan potensi ekonomi strategis nasional. Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 30 ribu spesies tanaman herbal, menjadikannya salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia.

“Jamu adalah pengetahuan lintas generasi yang harus kita jaga, kembangkan, dan hadirkan dengan pendekatan ilmiah agar bisa diterima secara global,” ujar Taruna.

Ia menilai modernisasi jamu bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan menjadikannya lebih aman, bermutu, dan berdaya saing.

Jamu Experience Cafe

Cafe Jamu Indonesia yang dihadirkan oleh PT Acaraki Nusantara Persada (Acaraki) mengusung konsep Jamu Experience Cafe. Pengunjung tidak hanya menikmati racikan jamu, tetapi juga diajak memahami filosofi jamu—mulai dari jampi (doa), oesodo (kesehatan), hingga nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Founder & Director Acaraki Jony Yuwono menyampaikan bahwa kehadiran cafe ini bertujuan mendekatkan jamu dengan masyarakat urban, khususnya generasi muda.

“Acaraki ingin memperluas cara masyarakat mengenal dan menikmati jamu. Bukan menggantikan tradisi, tetapi menjembatani tradisi dengan gaya hidup modern,” kata Jony.

Inovasi Tanpa Memutus Akar

Sebagai bagian dari inovasi, Acaraki juga memperkenalkan Acaraki Jamu Capsule, alternatif konsumsi jamu yang lebih praktis. Tiga varian diluncurkan, yakni Turmeric, Shades of Gold, dan All About Ginger, sebagai pelengkap jamu seduh konvensional.

Menurut Taruna Ikrar, inovasi seperti ini penting selama tetap mematuhi standar keamanan dan mutu. Ia mengapresiasi langkah Acaraki yang mengembangkan produk berbasis bahan alam secara bertanggung jawab dan sesuai regulasi BPOM.

“Inovasi hanya bermakna jika diiringi kepastian standar. Kepercayaan publik terhadap jamu dibangun dari keamanan dan mutu, bukan sekadar klaim,” tegasnya.

Transformasi Jamu Nasional

Taruna Ikrar dikenal sebagai salah satu figur yang mendorong transformasi jamu nasional secara sistemik. Melalui konsep ABG (Akademik, Bisnis, Government), ia menekankan pentingnya kolaborasi antara riset perguruan tinggi, inovasi pelaku usaha, dan peran negara dalam pengawasan serta perlindungan masyarakat.

BPOM di bawah kepemimpinannya terus mendorong hilirisasi riset herbal, penguatan pengawasan obat tradisional, serta kesiapan jamu Indonesia untuk menembus pasar global tanpa kehilangan identitas budaya.

Namun, Taruna juga menegaskan sikap tegas BPOM terhadap peredaran jamu ilegal, terutama produk tanpa izin edar atau yang mengandung bahan kimia berbahaya.

“Perlindungan masyarakat adalah fondasi utama agar jamu Indonesia tumbuh sehat dan dipercaya,” ujarnya.

Simbol Warisan dan Keberlanjutan

Peresmian Cafe Jamu Indonesia ditandai dengan penandatanganan prasasti dan penanaman pohon kehidupan, sebagai simbol keberlanjutan warisan leluhur. Bagi Taruna Ikrar, jamu bukan sekadar produk kesehatan, melainkan juga duta budaya Indonesia di panggung global.

“Dari warisan leluhur, jamu melangkah ke masa depan kesehatan global,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *