farsa.id Sharm el-Sheikh – Masyarakat sipil internasional, termasuk WALHI di dalamnya mendesak industri big polluters untuk keluar dari perhelatan arena konferensi perubahan iklim dunia atau Conference of Parties/COP27 yang berlangsung di Sharm el-Sheikh, Mesir, sejak 6 November lalu. Big polluters adalah sekelompok negara serta industri global yang mengeruk dan mengakumulasi keuntungan ekonomi yang sangat besar dari aktivitas mengeksploitasi sumber daya alam sekaligus mencemari planet bumi, baik darat, laut, maupun udara, terutama yang dilakukan di negara-negara selatan. Diantara big polluters yang dapat disebutkan adalah industi minyak, gas, dan batu bara.
Desakan ini disuarakan berdasarkan fakta bahwa arena COP27 telah digunakan oleh big pollutes, dengan cara mengutus para pelobi mereka untuk masuk dan menginfiltrasi forum-forum COP27, dalam rangka mempengaruhi beragam keputusan penting COP27. Setidaknya tercatat sebanyak 636 orang pelobi big polluters yang terdaftar dan hadir dalam Cop27. Jumlah pelobi ini naik dari COP26 di Glasgow tahun lalu, yang jumlahnya hanya 503 orang. “Angka 636 orang merupakan jumlah delegasi terbanyak dibandingkan dengan delegasi negara mana pun,” ungkap Parid Ridwanuddin, Manajer Kampanye Pesisir dan Laut WALHI, yang merupakan delegasi WALHI dalam COP27.
Parid menjelaskan, big polluters telah merusak masa depan anak-anak di planet bumi, menghancurkan sumber-sumber pangan serta air minum, meracuni tanah, air, dan udara yang menjadi sumber penting bagi kehidupan. “Kita di sini, hari ini bergerak bersama di forum internasional ini untuk merebut hak generasi yang akan datang dari ancaman big polluters,” tegasnya dalam aksi bersama Kick Big Polluters Out.
Sementara itu, Kepala Divisi Kampanye Eksekutif Nasional WALHI, Puspa Dewy sangat menyayangkan masuknya 636 pelobi di arena COP27. Ia menyebut bahwa COP27 menjadi tempat istimewa big polluters. “Dengan masuknya 636 pelobi, COP27 lebih mengedepankan skema-skema business as usual dibandingkan agenda keselamatan rakyat,” tegasnya. Berdasarkan data Climate Accountability Institute 2020, terdapat 20 perusahaan terbesar yang memproduksi emisi dalam jumlah yang sangat besar. 20 perusahaan besar ini telah menghasilkan polusi dan mengotori planet bumi.
| Nama Perusahaan | Asal Negara |
| Saudi Aramco | Saudi Arabia |
| Gazprom | Rusia |
| Chevron | Amerika Serikat |
| Exxon Mobil | Amerika Serikat |
| National Iranian Co | Iran |
| BP | Inggris |
| Royal Dutch Shell | Belanda |
| Coal India | India |
| Pemex | Meksiko |
| Petro China/China National Petroleum | China |
| Petroleos de Venezuela | Venezuela |
| Peabody Energy | Amerika Serikat |
| Chonoco Philips | Amerika Serikat |
| Abu Dhabi | Uni Emirat Arab |
| Kuwait Petroleum | Kuwait |
| Iraq National Oil | Iraq |
| Total SA | France |
| Sonatrach | Aljazair |
| BHP | Australia |
| Petrobras | Brazil |
Sumber: Climate Accountability Institute 2020
WALHI mendesak seluruh negara-negara maju dan industri big polluters untuk bertanggung jawab atas krisis iklim dan menuntut mereka untuk mematuhi kesepakatan Paris Agreement yang menetapkan batas temperatur global tak lebih dari 1,5 derajat selsius. “Kami juga mendesak mereka untuk membayar utang iklim (climate debt) kepada masyarakat di negara-negara selatan yang terdampak krisis iklim,” tegas Puspa Dewy. Di Indonesia, lebih dari 8 juta jiwa masyarakat pesisir terdampak krisis iklim, dimana sejak tahun 2017-2020 lebih dari 5400 desa pesisir tenggelam. Selain itu. Pulau-pulau kecil di Indonesia terancam tenggelam karena kenaikan air laut yang sangat cepat.
Masyarakat pesisir harus menjadi penerima manfaat pertama dan utama climate debt karena mereka berhadapan langsung dengan dampak buruk krisis iklim. Tak hanya itu, mereka juga terbukti telah berjuang melindungi ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil dari kerusakan.





